Rabu, 23 Januari 2013

PRAKTIKUM PENGUKURAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS


PENDAHULUAN

                 Latar Belakang
Pengidentifikasian suatu zat kimia dapat diketahui berdasarkan sifat-sifat yang khas dari zat tersebut. Sifat-sifat tersebut dapat dibagi dalam beberapa bagian yang luas. Salah satunya ialah sifat intensif dan sifat ekstensif. Sifatekstensif adalah sifat yang tergantung dari ukuran sampel yang sedang diselidiki.Sedangkan sifat intensif adalah sifat yang tidak tergantung dari ukuran sampel. Kerapatan atau densitas merupakan salah satu dari sifat intensif. Dengan kata lain, kerapatan suatu zat tidak tergantung dari ukuran sampel. Kerapatan merupakan perbandingan antara massa dan volume dari suatu senyawa. Makin besar volume dan massa dari suatu senyawa, makin kecil kerapatannya. Begitu juga sebaliknya, makin kecil volume dan massa suatu senyawa, kerapatannyamakin besar. Kebanyakan zat padat dan cairan mengembang sedikit bila dipanaskan dan menyusut sedikit bila dipengaruhi penambahan tekanan eksternal. Kerapatan kebanyakan zat padat dan cairan hampir tidak bergantung pada temperatur dan tekanan. Sebaliknya kerapatan gas sangat bergantung pada temperatur dan tekanan. Kerapatan gas diberikan pada kondisi standar (tekanan atmosfer padaketinggian dan temperature 0 C.   Kerapatan gas sangat kecil bila dibandingkan dengan kerapatan zat padat. Kerapatan dan bobot jenis dari tiap senyawa berbeda- beda. Berdasarkan pada teori ini, maka dilakukanlah percobaan penentuan kerapatan dan bobot jenis beberapa larutan.

                 Tujuan Percobaan
                        Untuk mengetahui dan mempelajari cara pengukuran kerapatan dan bobot jenis dari aquadest dan alcohol dengan menggunakan piknometer.



I.                   JUDUL
PENGUKURAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
II.                TUJUAN PERCOBAAN
1.      Mengenal alat untuk mengukur kerapatan dan bobot jenis.
2.      Untuk mengetahui dan mempelajari cara pengukuran kerapatan dan bobot jenis dari aquadest dan alcohol dengan menggunakan piknometer.
III.             TEORI
Pengukuran kerapatan dan bobot jenis digunakan apabila mengadakan perubahan massa dan volume. Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan volume. Batasanya adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu yang dinyatakan dalam system cgs dalam gram per sentimeter kubik (g/cm3).
Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan volume. Batasannya adalah massa per satuan Volume pada temperature dan tekanan tertentu dinyatakan dalam system cgs (g/cm3) dan dilambangkan dengan ρ.
      Bila kerapatan benda lebih besar dari kerapatan air, maka benda tersebut akan tenggelam dalam air. Bila kerapatannya lebih kecil, maka benda akan mengapung. Benda yang mengapung, bagian volume sebuah benda yang tercelup dalam cairan manapun sama dengan rasio kerapatan benda-benda terhadap kerapatan cairan. Rasio kerapatan air dinamakan berat jenis zat itu.
      Bobot jenis (bilangan murni tanpa dimensi ) adalah perbandingan bobot zat terhadap air volume yang sama ditimbang di udara pada suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat pada suhu tertentu (Biasanya 25oC), Sedangkan rapat jenis adalah perbandingan antara bobot jenis suatu zat dengan bobot jenis air pada suhu tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25o/25o, 25o/4o, 4o/4o). Untuk bidang farmasi, biasanya 25o/25 .
                  Angka bobot jenis menggambarkan suatu angka hubngan tanpa dimensi, yang ditarik dari bobot jenis air pada 4oC ( = 1,000 graml-1 ) (4).
                  Bobot jenis relative dari farmakope-farmakope adalah sebaliknya suatu besaran ditarik dari bobot dan menggambarkan hubungan berat dengan bagian volume yang sama dari zat yang diteliti dengan air, keduanya diukur dalam udara dan pada 200C (4).
            Penentuan Bobot Jenis dan Rapat jenis
Penentuan bobot jenis berlangsung dengan piknometer, Areometer, timbangan hidrostatik (timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris. Ada beberapa alat untuk mengukur bobot jenis dan rapat jenis, yaitu menggunakan piknometer, neraca hidrostatis (neraca air), neraca Reimann, beraca Mohr Westphal .
Bobot jenis zat cair
Metode Piknometer . Pinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air. Menurut peraturan apotek, harus digunakan piknometer yang sudah ditera, dengan isi ruang dalam ml dan suhu tetentu (20oC). Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. Optimum ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan tipe pipet .
Neraca Mohr Westphal dipakai untuk mengukur bobot jenis zat cair. Terdiri atas tua dengan 10 buah lekuk untuk menggantungkan anting, pada ujung lekuk yang ke 10 tergantung sebuah benda celup C terbuat dari gelas (kaca) pejal (tidak berongga), ada yang dalam benda celup dilengkapi dengan sebuah thermometer kecil untuk mengetahui susu cairan yang diukur massa jenisnya, neraca seimbang jika ujum jarum D tepat pada jarum T .
Densimeter merupakan alat untuk mengukur massa jenis (densitas) zat cair secara langsung. Angka-angka yang tertera pada tangkai berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat cair yang permukaannya tepat pada angka yang tertera.
IV.             PERALATAN
1.      Piknometer
2.      Gelas ukur
3.      Thermometer
4.      Aquadest
5.      Alcohol 50%, 60%, dan 70%
6.      Timbangan digital




V.                CARA KERJA
A.    Aquadest
1.      Timbang piknometer yang telah bersih dan kering.
2.      Piknometer diisi aquadest dan diukur suhunya menggunakan termometer.
3.      Bersihkan sekeliling piknometer dan impitkan tutupnya. Kemudian timbang kembali.
B.     Alkohol
1.      Timbang piknometer yang telah bersih dan kering.
2.      Piknometer diisi alkohol dan diukur suhunya menggunakan thermometer.
3.      Bersihkan sekeliling piknometer dan impitkan tutupnya. Kemudian timbang kembali.

VI.             TABEL DATA DAN PENGOLAHAN DATA
PERCOBAAN 1
1.
Bobot piknometer kosong
28,9 gram
2.
Bobot piknometer + aquadest
78,6 gram
3.
Bobot aquadest
78,6 g – 28,9 g = 49,7 gram
4.
Suhu (t)
27 oC
Volume air      = bobot air / ρ air
                        = 49,7 g / 0,997
                              = 49,8495 g/ml
PERCOBAAN 2
1.
Bobot piknometer kosong
28,9 gram
2.
Bobot piknometer + alcohol 50%
74,8 gram
3.
Bobot alcohol 50%
74,8 g – 28,9 = 45,9 gram

BJ alcohol 50%     = bobot alcohol / volume air
                              = 45,9 g / 49,8495 ml
                              = 0,9207 g/ml

Kerapatan              = Bj / ρ air
= 0,9207 / 0,99654
                              = 0,9239 g/cm3 

PERCOBAAN 3
1.
Bobot piknometer kosong
28,9 gram
2.
Bobot piknometer + alcohol 60%
74,2 gram
3.
Bobot alcohol 60%
74,2 g – 28,9 g = 45,3 gram

BJ alcohol 60%     =  bobot alcohol / volume air
                              = 45,3 g / 49,8495  ml
                              = 0,9087 g/ml
Kerapatan              = Bj / ρ air
                              = 0,9087 / 0,99654
                              = 0,9119 g/cm3 
PERCOBAAN 4
1.
Bobot piknometer kosong
28,9 gram
2.
Bobot piknometer + alcohol 70%
68,9 gram
3.
Bobot alcohol 70%
68,9 g – 28,9 g = 40 gram

BJ alcohol 70%     = bobot alcohol / volume air
                              = 40 g / 49,8495  ml
                              = 0,8024 g/ml
Kerapatan              = Bj / ρ air
                              = 0,8024 / 0,99654
                              = 0,8051 g/cm3 

VII.          PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, penentuan kerapatan dan bobot jenis dilakukan dengan menggunakan piknometer. Sampel yang digunakan adalah aquadest dan alkohol. Pengukuran dengan menggunakan piknometer, sebelum digunakan harus dibersihkan dan dikeringkan hingga tidak ada sedikitpun titik air di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh bobot kosong dari alat. Jika masih terdapat titik air di dalamnya, dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Pada pengisiannya dengan sampel, harus diperhatikan baik-baik agar di dalam alat tidak terdapat gelembung udara, sebab akan mengurangi bobot sampel yang akan diperoleh. Alat piknometer yang digunakan telah dilengkapi dengan termometer, sehingga langsung dapat diketahui suhu sampel tersebut. Pada percobaan alkohol, pengukuran harus segera dilakukan ketika piknometer telah diisi sampel, sebab sampel akan terus berkurang bobotnya.
VIII.       KESIMPULAN
Kerapatan adalah  masa perunit volume suatu zat pada temperatur tertentu. Dalam percobaan dengan menggunakan piknometer, alcohol 50% mempunyai kerapatan 0,92 g/cm3, alcohol 60% mempunyai kerapatan 0,91 g/cm3  dan alcohol 70% mempunyai kerapatan 0,81 g/cm3  . Pada intinya, bobot cairan itu berbeda, bobot air dan alcohol mempunyai kerapatan yang berbeda, oleh sebab itu jika masing-masing cairan tersebut ditimbang, akan menghasilkan berat yang berbeda, walaupun dalam bentuk mililiter sama jumlahnya.















DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar